Ketua IKA Alumni INSURI Bedah Buku Misteri Ponorogo Kutho Kulon di Graha PCNU
INSURI NEWS - Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) INSURI Ponorogo, Ahmad Baihaqi, menjadi sorotan dalam forum bedah buku bertajuk “Misteri Ponorogo Kutho Kulon: Sebelum Perjanjian Giyanti 1755 M” yang digelar LTN NU Cabang Ponorogo. Acara tersebut berlangsung pada Selasa (2/12) malam di lantai 3 Graha PCNU Ponorogo, dihadiri puluhan mahasiswa, pegiat budaya, serta kalangan nahdliyin yang antusias mengikuti jalannya diskusi.
Dalam kesempatan itu, Baihaqi yang juga seorang pendidik dan peneliti sejarah lokal memaparkan gagasannya mengenai Ponorogo bagian barat (Kutho Kulon) sebagai salah satu simpul penting sejarah Jawa pra-Perjanjian Giyanti 1755 M. Melalui riset mendalam berupa penelusuran arsip, manuskrip kuno, situs sejarah, hingga tradisi lisan, ia menyusun narasi bahwa Ponorogo tidak hanya dikenal sebagai daerah seni pertunjukan, tetapi memiliki posisi strategis dalam dinamika politik dan budaya Jawa di masa lampau.
“Saya ingin menunjukkan bahwa Ponorogo, khususnya Kutho Kulon, punya peran besar dalam skenario sejarah Jawa sebelum Giyanti. Bukan sekadar latar, melainkan simpul peristiwa,” ujar Baihaqi dalam pemaparannya. Ia menegaskan bahwa gagasan dalam bukunya lahir dari kegelisahan melihat identitas Ponorogo yang sering kali dipersempit hanya pada Reog, sementara jejak historisnya jauh lebih luas dan kompleks.
Sebagai Ketua IKA Alumni INSURI, Baihaqi dianggap menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan alumni karena upayanya menghidupkan kembali literatur sejarah lokal berbasis riset akademik. Buku yang ditulisnya menyajikan kronologi sejarah, penafsiran simbol-simbol budaya, legenda, hingga praktik tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat Ponorogo. Melalui pendekatan tersebut, ia mengajak pembaca memahami bahwa identitas Ponorogo merupakan hasil proses panjang antara kekuasaan, resistensi masyarakat, dan dinamika spiritual.
Wakil Ketua PCNU Ponorogo, Dr. Iswahyudi, dalam sambutannya menekankan pentingnya tradisi literasi di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, karya Baihaqi menjadi contoh nyata bagaimana buku mampu menjadi ruang perenungan yang memperkuat daya kritis masyarakat.
“Menulis dan membaca buku adalah bentuk jihad intelektual. Ketika konten serba singkat mendominasi, karya berbasis riset seperti ini adalah penopang penting bagi warga, termasuk Nahdliyin,” tegasnya.
Dr. Iswahyudi menilai buku tersebut relevan bagi warga NU dan masyarakat Ponorogo. Dari sisi keagamaan, karya itu membuka kembali wacana tentang peran ulama dan jaringan pesantren dalam sejarah Ponorogo. Dari sisi kebudayaan, buku ini memperkaya pemahaman masyarakat tentang identitas lokal sehingga generasi muda tidak mudah tercerabut dari akar tradisinya.
“Menjaga budaya lokal dan memori sejarah sama pentingnya dengan menjaga nilai-nilai keagamaan,” ungkapnya.
Melalui buku Misteri Ponorogo Kutho Kulon: Sebelum Perjanjian Giyanti 1755 M, Ahmad Baihaqi sebagai Ketua IKA Alumni INSURI dianggap berhasil membuka kembali bab penting sejarah Ponorogo. Buku ini tidak hanya menghidupkan kembali memori kolektif tentang masa pra-Giyanti, tetapi juga mempertegas posisi Ponorogo sebagai wilayah yang memiliki peran strategis dalam sejarah Jawa. Ruang-ruang diskusi seperti Tasywirul Afkar menjadi momentum penting untuk merawat tradisi intelektual, literasi, serta kecintaan pada sejarah lokal.