Rektor INSURI Sekaligus Dewan Ahli PC ISNU Ponorogo Hadiri Stadium Generale dan 3rd SYIIR SANTREN

07 Oktober 2025 17:31
Rektor INSURI Sekaligus Dewan Ahli PC ISNU Ponorogo Hadiri Stadium Generale dan 3rd SYIIR SANTREN
Oleh Admisi INSURI

Aswaja News, 07 Oktober 2025 – Dalam acara Stadium Generale dan 3rd SYIIR SANTREN (Simposium Pemikiran Santri dan Khazanah Pesantren Nusantara), Rektor INSURI Ponorogo sekaligus Dewan Ahli IISNU Ponorogo, Dr. Muhamad Asvin Abdur Rohman, M.Pd., turut hadir dalam acara yang berlangsung di Graha Watoe Dhakon pada Selasa, (07/10/2025).

Acara yang diselenggarakan oleh PC ISNU Ponorogo yang bekerjasama dengan Pascasarjana UIN Ponorogo dan PW ISNU Jawa Timur tersebut dalam rangka menyongsong Hari Santri Nasional tanggal 22 Oktober 2025 mendatang.

Mengusung tema “Agama, Sains, dan Dekolonisasi Ilmu Sosial di Asia” acara ini menghadirkan 2 pembicara sekaligus, yaitu Prof. Dr. Moch Nur Ichwan, M.A (Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga) dan Dr. Amin Mudzakkir (Asisten Deputi Peningkatan Kapasistas Masyarakat Berkelanjutan Kemenko PM).

Sebagai pembicara pertama, Dr. Amin Mudzakkir menyampaikan problem dekolonisasi di Indonesia yang belum tuntas karena masih adanya kritik sekularisme yang memisahkan urusan agama (zakat) dari urusan negara (pajak).

Ia mengungkapkan potensi zakat secara nasional yang mencapai Rp 340 triliun, dan ini jauh melampaui kebutuhan anggaran untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem di Indonesia yang hanya berkisar Rp 19,5 triliun.

"Pemisahan zakat dan pajak yang berakar sejak era kolonial adalah awal mula problem ekonomi umat," ungkap Dr. Amin.

“Perlu adanya integrasi data zakat dan pajak melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (Data SEN). Integrasi ini diharapkan dapat memastikan seluruh potensi dana keumatan tersalurkan secara tepat sasaran kepada masyarakat miskin,” imbuhnya

Pada kesempatan yang sama, Prof. Nur Ichwan sebagai pembicara kedua mengajak peserta untuk menyadari bahwa kolonisasi bukan hanya terjadi pada teritori, melainkan pada pikiran dan pengetahuan (colonization of mind and knowledge).

Ia mendorong dekolonisasi melalui pluralisasi epistemologi dan pribumisasi pengetahuan (indigenization of knowledge). Prof. Ikhwan menyayangkan kegagalan Indonesia dalam mengangkat bahasa dan falsafah lokal (seperti bahasa Jawa) sebagai bahasa ilmu pengetahuan, berbeda dengan Jepang dan Cina.

"Kita menganggap barbershop lebih berkualitas dari tukang cukur, atau boarding school lebih baik dari pesantren—ini adalah sisa-sisa mental terjajah," tegas Prof. Ikhwan.

Ia menantang perguruan tinggi Islam untuk melahirkan epistemologi alternatif guna mengatasi keterputusan epistemik dalam ilmu sosial Islam yang telah berlangsung panjang sejak era Ibnu Khaldun.

Sementara itu, Dr. Asvin yang juga turut menghadiri acara menyampaikan apresiasinya atas terselenggarannya acara Stadium Generale dan 3rd SYIIR SANTREN tersebut.

Menurutnya, acara semacam ini sangat penting, apalagi mengundang pesantren dan organisasi-organisasi keagamaan yang bisa membuka cakrawala baru terkait suasana yang harus di kembangkan.

“Pesantren justru jangan tercerabut dari akarnya, tetapi terus berkembang tanpa harus kehilangan identitasnya. Bahkan tadi dijelaskan seperti Cina dan Jepang, bahasa mereka yang asli itu sudah menjadi bahasa ilmu pengetahuan.  Sementara di kita (Jawa) hal tersebut tidak terjadi,” ungkap Dr. Asvin.