Kolaborasi INSURI dan BPIP RI: Santri sebagai Garda Terdepan Penegak Ideologi Pancasila
Insurinews, 25 Oktober 2025 – Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI berkolaborasi dalam menggelar Seminar Kebangsaan Pembinaan Ideologi Pancasila bagi Santri dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” pada Sabtu (25/10/2025) di Gedung D INSURI Ponorogo.
Rektor INSURI Ponorogo Dr. M. Asvin Abdur Rohman, M.Pd.I dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan mendukung kerjasama antara INSURI Ponorogo dan BPIP RI, serta beliau berharap kerjasama ini tetap berlanjut.
“Mewakili keluarga besar INSURI Ponorogo, saya sangat mengapresiasi acara pada pagi ini. Selain mendapatkan keberkahan dan pengetahuan, semoga kerjasama kita tidak berhenti sampai di sini. Nantinya, jika ada mahasiswa INSURI yang ingin belajar (magang) di sana, semoga diberi kesempatan oleh BPIP,” ungkap Dr. M. Asvin Abdur Rohman, M.Pd.I.
Acara tersebut melibatkan beberapa pembicara ternama, yaitu Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A., P.h.D (Kepala BPIP RI), KH. Khoirul Fuad, M.Si (Pengasuh PP. Ali Maksum Krapyak Yogyakarta), Prof. Dr. Agus Muh. Najib M.Ag (Direktur Sosialisasi dan Komunikasi BPIP) dan Dr. Jauhan Budiwan. M.Ag (Wakil Rektor 1 INSURI Ponorogo).
Pada penyampaiannya, Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A., P.h.D menyinggung tentang bagaimana teknologi militer menjadi aspek yang paling utama berkaitan dengan penjajahan Indonesia.
“Indonesia memiliki 4 mukjizat politik, pertama Sumpah Pemuda, kedua Indonesia Raya, ketiga Pancasila dan yang keempat adalah Proklamasi,” tutur Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A., P.h.D.
“Tidak ada hal di dunia ini yang semuanya mengandung unsur positif, contohnya air sebagai sumber kehidupan saja juga memiliki hal negatif, tetapi bagaimana peran kita meminimalisir hal negatif yang ada hingga terjadinya sebuah keseimbangan,” imbuhnya.
Acara kemudian dilanjut dengan pemaparan materi dari KH. Khoirul Fuad, M.Si. Beliau menyampaikan pentingnya Pancasila sebagai sebuah pengikat atas keberagaman yang ada di Indonesia
“Berbicara tentang keragaman di Indonesia mulai dari agama, madzhab, hingga suku dan juga ras, penyatu dan pengikat dari keberagaman tersebut adalah Pancasila,” tegas KH. Khoirul Fuad.
Materi kedua, Dr. Jauhan Budiwan. M.Ag juga menyoroti posisi Pancasila yang juga berperan sebagai alat untuk menentukan sebuah kesepakatan.
“Pancasila adalah alat kohesi sosial atau alat kesepakatan. Tanpa ini Indonesia sulit bersatu apalagi menjadi pemimpin masa depan dunia”, tutur Dr. Jauhan Budiwan. M.Ag.
Sementara itu, materi terakhir, Prof. Dr. Agus Muh. Najib M.Ag, mengungkapkan tentang peluang dan tantangan di era digital sekarang ini, termasuk kemampuan membedakan sebuah informasi.
“Kita perlu menyoroti tentang peluang dan tantangan di era digital. Akses informasi yang luas dan mudah baik lokal maupun global menjadi peluang, sementara kemampuan untuk membedakan informasi yang akurat dan tidak akurat menjadi tantangan di era digital,” ungkap Prof. Dr. Agus Muh. Najib M.Ag
Sebagai penutup, bahwasanya setiap negara memiliki satu alat perekat. Pancasila harus kita syukuri sebagai alat perekat dan persatuan bangsa, tanpa ini Indonesia akan berpotensi bubar. Sehingga, agama dan Pancasila adalah suatu yang berbeda tetapi belum tentu bertentangan.