Antara Bahasa dan Santri di Hari Santri 2025
H. Ahmad Kirom, S.S.,M.Li (Dosen Fakultas Tarbiyah INSURI Ponorogo)
Opini INSURI - Peringatan Hari Santri 2025 akan segera datang satu atau dua minggu mendatang. Kembali sebagai santri, harusnya kita ber-muhasabah diri: apa yang telah diberikan, disumbangkan, dan diwariskan seorang santri kepada negeri tercinta ini? Kadang, kita hanya terpatri pada kebiasaan untuk menceritakan ulang kisah heroik para santri di masa lalu—kisah yang seakan tidak pernah habis untuk ditelusuri, di-nostalgiai, dan dihidupkan kembali sebagai momentum kebangsaan. Padahal, di hari-hari yang penuh dengan kontroversi dan anomali sosial seperti sekarang, santri tidak hanya dituntut menjadi pewaris sejarah, tetapi juga penafsir zaman.
Salah satu yang bukan anomali dalam sejarah peradaban ialah warisan turots dari para ulama—harta intelektual yang terus dikaji, ditafsirkan, dan dipelajari bahkan dalam pendidikan modern hari ini. Di sinilah letak keistimewaan santri: mereka tidak hanya memelihara tradisi, tetapi juga menghidupkan bahasa yang merupakan jembatan antara ilmu dan hikmah. Bahasa Arab, misalnya, bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bahasa yang melahirkan peradaban, menumbuhkan pemahaman, dan membentuk karakter keilmuan. Ketika santri mempelajari bahasa, sejatinya mereka sedang menghidupkan nilai-nilai yang tersemat di balik setiap lafaz, setiap kaidah, dan setiap makna yang dikandung oleh kata.
Bahasa bagi santri bukanlah sesuatu yang netral. Ia adalah identitas, sarana perjuangan, sekaligus cermin dari kedalaman berpikir. Seorang santri yang memahami bahasa dengan baik, sejatinya telah memahami bagaimana menyusun logika berpikirnya. Sebab bahasa bukan hanya sekadar kata, melainkan struktur makna yang menuntun pada kebenaran dan kesadaran. Oleh karena itu, ketika seorang santri belajar nahwu dan sharaf, ia sebenarnya sedang menata tata pikir dan tata jiwanya agar cara berfikir dan dan jiwanya terus berlari menuju kebenaran dan akhirnya menemukan kebijaksanaan.
Dalam konteks kekinian, bahasa santri tidak lagi terbatas pada bahasa Arab semata. Santri masa kini harus melek bahasa Indonesia yang baik dan benar, sekaligus mampu berkomunikasi dengan bahasa internasional yakni bahasa Inggris tanpa kehilangan jati dirinya. Menguasai bahasa bukan berarti meninggalkan akar, tetapi memperkuat posisi santri sebagai penerjemah nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin di tengah dunia modern yang serba cepat dan serba digital. Tantangan zaman menuntut santri untuk mampu menulis, berbicara, dan berpikir secara kritis, tanpa kehilangan ruh ta’dzim kepada guru dan tawadhu’ kepada ilmu.
Bahasa, dalam pandangan santri, bukanlah alat dominasi atau domination tool seperti dalam paradigma Barat. Bahasa adalah sarana tabligh, penyampai pesan yang menuntun manusia pada kebenaran. Di pesantren, kita belajar bahwa setiap kata memiliki tanggung jawab moral. Ketika seorang santri berbicara, ia menyadari bahwa lisannya adalah amanah. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa bahasa santri adalah bahasa yang beradab—bahasa yang menenangkan, menasihati, sekaligus bahasa nurani. Di tengah dunia yang kini dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, dan provokasi digital, bahasa santri hadir sebagai penyejuk dan penuntun, bukan pemisah ataupun pemecah.
Peringatan Hari Santri seharusnya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali kesadaran linguistik santri. Bahwa tugas santri tidak hanya menjaga kitab kuning, tetapi juga menjaga bahasa hikmah. Tugas santri bukan sekadar membaca teks, melainkan menafsirkan realitas dengan bahasa yang bijak. Dari pesantrenlah lahir generasi yang mampu berdialog antara tradisi dan modernitas. Dari pesantren pula lahir tokoh-tokoh yang menjadikan bahasa sebagai sarana perjuangan—bukan hanya di medan perang, tetapi juga di medan pemikiran.
Maka, ketika kita memperingati Hari Santri 2025, mari kita renungkan: sudahkah kita sebagai santri berkontribusi terhadap kebudayaan bahasa bangsa ini? Sudahkah kita menulis dengan adab, berbicara dengan hikmah, dan berpikir dengan jernih sebagaimana diajarkan oleh para ulama kita? Sebab, menjadi santri bukan hanya soal identitas keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga peradaban bahasa. Karena pada akhirnya, sebagaimana kata seorang ulama, al-lughah ruuhul ummah — bahasa adalah ruh sebuah bangsa. Jika ruh itu terjaga, maka hidup pula martabat umat.