Sambutan Hangat Ala PCINU & PCI Fatayat Mesir
Catatan Muhibah Ahmad Syafii, Dosen INSURI ke Negeri para Nabi (1)
Setelah penerbangan yang lumayan cukup melelahkan (kurang lebih 13 jam dari Bandara CGK-CAI), akhirnya hari ini aku tiba di Negeri Seribu Menara (1 Juli 2019 pukul 06.00), sebuah julukan bagi negara Mesir karena banyaknya menara masjid yang menjulang tinggi di langit Mesir. Konon katanya, negara ini lah yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia puluhan tahun yang lalu.
Rasa lelah yang kurasakan seolah terbayar lunas dengan penjemputan hangat di Bandara CAI oleh beberapa Pengurus Cabang Istimewa NU (PCI NU) Mesir. Sebelum menuju ke Sekretariat PCINU, aku pun dijamu oleh keluarga mas Pohan di rumahnya. Jamuan hangat pun berlanjut saat aku sampai di Sekretariat PCI NU, tempat di mana rencana aku menginap selama berada di Mesir. Silih berganti kawan-kawan PCI NU dan PCI Fatayat Mesir berdatangan ke Sekretariat, meluangkan waktu mereka untuk menyambangiku. Gus Nora Burhanuddin, ketua Tanfidziyah PCI NU, karena sedang berada di negara Azarbaijan untuk suatu tugas, tidak lupa memohon maaf karena belum bisa ikut menjemput dan menemuiku.
Beberapa saat yang lalu, beberapa kawan PCI Fatayat bahkan sengaja berkumpul di Sekretariat untuk memasak makanan sebagai hidangan jamuan makan malam bersama. Di sela-sela menyantap hidangan, aku dan mereka saling kenal-mengenal satu sama lain. Beberapa nama dan asal ma'had mereka yang ku ingat diantaranya:
1. Azuma Muhammad (PP. Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta)
2. Rifqie Hidayat (PP. Walisongo Ngabar Ponorogo)
3. Zainal Bashari (PP. Al-Anwar Sarang)
4. Adi Tama (PP. Ta'mirul Islam, Solo)
5. Nazarudin Muzakki (PP. Tambak Beras)
6. Habibah Masrurah (PP. Al-Azhar Gresik)
7. Wardatul Khumaira (PP. Mambaus Shalihin, Manyar Suci Gresik)
8. Rohmatul Husniah (PP. Al-Amin Prinduan Madura)
9. Khoirun Nisa' Nur Aini (MAPK Solo)
10. Fanny Hilma Nazira (PP. Wali Songo Ngabar)
11. Nurul Hasanah (PP. Gontor Putri Mantingan)
12. Hamidatul Hasanah (PP. Al-Munawwir Krapyak)
Nama-nama tersebut tentu belum semua dari pengurus PCI NU & PCI Fatayat Mesir, baru sebagian kecil saja. Bahkan dari jajaran Mustasyar dan Rois Syuriah (sebagian alumni PP. Hidayatul Mubtadiin Lirboyo), belum bisa bergabung karena satu dan lain hal dan akan menyusul kemudian. Di akhir perbincangan, aku tak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada kawan-kawan PCI NU & PCI Fatayat atas jamuan hangat dan rasa kekeluargaan yang sangat kental, meskipun baru kenal. Lantaran semua ini, semoga kita diakui sebagai santrinya Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari. Semoga silaturahim ini bisa kekal sampai di akhirat nanti. Dengan tanpa maksud mengguruhi, ku sempatkan mengutip dawuh Hadratus Syaikh yang termaktub dalam Qanun Asasi NU berikut:
اَمَّابَعْد".فَإِنَّ اْلاِجْتِمَاعَ وَالتَّعَارُفَ وَاْلاِتِّحَادَ وَالتَّآ لُفَ هُوَ اْلاَمْرُالَّذِيْ لاَيَجْهَلُ اَحَدٌ مَنْفَعَتَهُ. كَيْفَ وَقَدْ قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: يَدُاللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فَاِذَاشَذَّالشَّاذُّ مِنْهُمْ اِخْتَطَفَتْهُ الشَّيْطَانُ كَمَايَخْتَطِفُ الذِّئْبُ مِنَ الْغَنَمِ.
Sesungguhnya pertemuan dan saling mengenal, persatuan dan kekompakan adalah merupakan hal yang tidak seorangpun tidak mengetahui manfaatnya. Betapa tidak. Rasulullah SAW benar-benar telah bersabda yang artinya: “Tangan Allah bersama jama’ah. Apabila diantara jama’ah itu ada yang memencil sendiri, maka syaitan pun akan menerkamnya seperti halnya serigala menerkam kambing".
Madinatun Nashr, Mesir, 01/07/2019
Al-Faqiir
Ahmad Syafi'i SJ