Mencari Makna “Lain” dari Peringatan Hari Santri dengan Pendekatan Dekonstruksi
Dani Saputra, M.Sos (Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi INSURI Ponorogo)
Opini INSURI - Sejak ditetapkan pertama kali tahun 2015 lalu, peringatan Hari Santri Nasional (HSN) pada 22 Oktober sering kali hanya berhenti pada simbol dan kurang diimbangi dengan pemaknaan ulang atas spirit tersebut. Banyak acara yang hanya diisi dengan upacara, pidato hingga narasi heroik mengenai kontribusi para santri dalam perjuangan kemerdekaan.
Santri dalam makna “konservatif” sering dimaknai sebagai orang yang belajar kitab di pesantren, serta sebagai lambang kesalehan dan moralitas agama, yang sekaligus menjadi lawan “kelompok” yang kurang religius, maka dalam hal ini, dekonstruksi akan mengingatkan bahwa setiap makna selalu terbentuk melalui perbedaan dan oposisi, termasuk makna santri tersebut. Sehingga, memperingati HSN tanpa menyadari bahwa ada relasi kuasa makna di baliknya bisa membuat kita justru meneguhkan batas-batas lama tersebut.
Bagi pembaca postrukturalis dan juga posmodern, nama Jacques Derrida mungkin bukan sesuatu yang asing. Sebagai pengusung dekonstruksi, ia kemudian dikenal sebagai tokoh yang memperhatikan hal-hal kecil, alih-alih menyebutnya sepele, yang oleh gerakan sebelumnya (strukturalis) justru sering diabaikan. Misalnya, realitas yang awalnya dianggap objektif, homogen, dan singular, dengan pendekatan dekonstruksi, realitas tersebut akan menjadi plural, heterogen dan fragmentaris.
Dalam konteks ini, dekonstruksi mengingatkan bahwa sebuah makna tidak pernah final dan memungkinkan makna lain untuk dihadirkan, sehingga makna santri tidak hanya berlaku bagi mereka yang belajar kitab di pesantren, tetapi juga berlaku bagi mereka yang menjalankan nilai “kesantrian” di tempat lain, misalnya di kampus, di laboratorium, di media sosial, atau di tempat lain di mana mereka turut memperjuangkan keadilan sosial.
Jika HSN hanya dimaknai dengan seremonial dan slogan, maka moment tersebut akan kehilangan daya kritisnya. Sehingga, membaca HSN secara dekonstruktif merupakan langkah lain untuk mempertanyakan kembali, misalnya, apakah kita sebagai santri masih hidup dalam semangat keikhlasan, keilmuan, dan keberpihakan pada rakyat yang dulu menjadi jiwa santri? Ataukah kita santri yang hanya mengulang-ulang simbol tanpa makna tersebut?
Dekonstruksi akan melihat bahwa setiap teks, termasuk “HSN”, selalu terbuka bagi penafsiran baru. Maka dari itu, menjadi santri hari ini bukan hanya persoalan pakaian atau status, melainkan soal kesediaan untuk terus belajar, meragukan, dan mencari kebenaran.
Sehingga, peringatan HSN dalam semangat dekonstruksi, bukanlah upaya penutupan makna, tetapi pembukaan jalan menuju kesalehan yang lebih reflektif, terbuka, dan manusiawi—sebuah sikap kritis yang justru sangat santri.