Sarjana (Muslim) dan Tantangan Global

05 November 2019 09:19
Sarjana (Muslim) dan Tantangan Global
Oleh Ahmad Zainul Hamdi*

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world” (Pendidikan adalah senjata terkuat yang bisa digunakan untuk mengubah dunia). Itu adalah salah satu ungkapan terkenal dari Nelson Mandela, pahlawan, peraih hadian Nobel, dan mantan presiden Afrika Selatan, yang berhasil membebaskan bangsanya dari perbudakan dan penindasan kulit putih.

Ungkapan Mandela di atas patut kita renungkan. Bukan semata-mata karena kasus Afrika Selatan itu sendiri, tapi karena begitulah kekuatan pendidikan. Pada dasarnya, peradabadan dicipta oleh kaum terdidik, sekalipun istilah ‘terdidik’ di sini tidak selalu harus diartikan lulusan sekolah formal. Jika kita mengambil sains dan teknologi sebagai dua faktor penting dalam pembentukan sejarah peradaban dunia, dua hal itu sepenuhnya bisa diklaim sebagai hasil karya dari kaum terdidik. Bahkan tidak ada revolusi dunia yang tidak ditentukan kalangan ini.

Hal yang sama berlaku bagi tantangan setiap zaman. Tanpa menafikan peran yang diambil oleh kalangan awam, setiap tantangan zaman yang akhirnya melahirkan tanggapan massif yang menentukan berbagai perubahan dalam tata kehidupan bermasyarakat, adalah produk dari kaum terdidik ini. Tak terkecuali adalah di dalamnya kaum terdidik dari lembaga pendidikan Islam.

Membicarakan tentang peran sarjana Islam dalam menghadapi tantangan global, terlebih dahulu kita perlu memahami tantangan yang ada saat ini. Setidaknya, ada dua hal penting yang perlu dipertimbangkan oleh para sarjana dalam menghadapi tantangan saat ini: Bonus demografi dan era industri 4.0.

 

Tantangan Pertama: Bonus Demografi

Sejak 2010 hingga 2050, kita memiliki lonjakan yang signifikan dari jumlah warga bangsa kita yang berusia produktif. Orang-orang menyebutnya sebagai “bonus demografi” (demographic dividend).  Biasanya, “bonus” itu selalu menyenangkan karena merupakan sesuatu yang “lebih” dari yang biasanya kita miliki. Betul, dalam tahun 2010 hingga 2050, dengan puncaknya pada 2020–2040, bangsa Indonesia memiliki jumlah warga yang berusia produktif (16–64 tahun) lebih banyak dari biasanya, sementara jumlah penduduk yang tergantung (anak-anak dan orang lanjut usia) mencapai titik terendahnya. Angkatan kerja Indonesia berada di level 68% dari total penduduk Indonesia.

Warga bangsa usia produktif adalah warga bangsa yang menjadi penggerak utama roda sosial-ekonomi-politik sebuah bangsa. Mereka memegang kepemimpinan hampir di seluruh bidang. Merekalah yang menentukan arah dan capaian sebuah bangsa. Dengan melimpahnya penduduk usia produktif, maka bangsa Indonesia dapat menggenjot produksi dan prestasinya di semua sektor. Jika kita menanganinya dengan tepat, maka inovasi akan berlimpah, orang pandai berlimpah, keputusan-keputusan strategis dan cerdas akan banyak dihasilkan, dan pekerjaan akan berlimpah. Laju ekonomi nasional akan terdorong kuat. Kita dapat melakukan akselerasi ekonomi dalam waktu lebih singkat daripada waktu-waktu tanpa “bonus demografi”.

Tetapi, apa yang terjadi bila limpahan penduduk usia produktif ini tidak mampu menciptakan inovasi-inovasi dan tidak produktif? Bonus demografi serta merta akan menjadi “derita demografi”. Penduduk usia produktif yang mestinya menanggung anak-anak dan orang lanjut usia malah menjadi beban negara. Kemiskinan makin merata dan merajalela. Pembangunan makin sulit dilakukan karena anggaran negara habis untuk menanggung beban kemiskinan yang makin membengkak. Sumber daya alam kita semakin mudah diambil alih kepemilikannya oleh pihak-pihak asing. Kekayaan kita terjual murah karena kita lemah. Kita makin terpuruk sebagai bangsa.

Bonus Demografi berubah menjadi Bencana Demografi. Demographic Dividend berubah menjadi Demographic Disaster. Jendela kesempatan (window of opportunity) yang kita miliki, karena ketidakmampuan mengelolanya, berubah menjadi rumah jagal yang mempercepat kehancuran negara  kita.

 

Tantangan Kedua: Revolusi Industri 4.0

Saat ini kita berada di tahap keempat revolusi industri atau yang saat ini terkenal dengan itilah revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 adalah lanjutan dari tiga revolusi industri sebelumnya. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab. Sebegitu pentingnya era ini, Pemerintah RI bahkan telah me-launching roadmap yang disebut “Making Indonesia 4.0”. Pemerintah RI berharap, sektor Industri 4.0 ini mampu menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak serta investasi baru yang berbasis teknologi.

Revolusi industri pertama (1.0) adalah revolusi industri yang terjadi di Eropa pada 1784. Tahap ini ditandai dengan penggunaan mesin uap dalam proses produksi barang. Sebelum adanya mesin uap, kita cuma bisa mengandalkan tenaga otot, tenaga air, dan tenaga angin untuk menggerakkan apapun.

Penemuan mesin uap membuat semua hal bisa dilakukan jauh lebih efisien dan murah. Kini tak ada lagi batasan waktu dan tempat untuk menggerakkan mesin. Aktivitas produksi berjalan sepanjang hari tanpa mendengar jerit kelelahan mesin. Revolusi industri juga memungkinkan bangsa Eropa mengirim kapal perang mereka ke seluruh penjuru dunia dalam waktu jauh lebih singkat. Tidak ada lagi cerita tentara-tentara Eropa kelelahan saat melakukan serangan. Revolusi industri 1.0 melahirkan penjajahan negara-negara Eropa kepada nyaris seluruh negara di dunia.

Perubahan-perubahan ini amat penting sebab perubahan ini berarti menghilangkan keistimewaan kaum bangsawan yang merupakan kelas sosial istimewa di era sebelumnya. Kini, pemodal lebih penting daripada pemilik tanah seperti kaum bangsawan. Kaum bangsawan yang tak mampu menanggapi perubahan ini hanya akan menjadi sisa-sisa masa lalu.

Revolusi industri 2.0 terjadi di awal abad ke-20. Revolusi industri 2.0 sesungguhnya adalah revolusi sistem produksi dan penggunaan listrik. Sebelum revolusi 2.0, proses produksi memang sudah menggunakan mesin, tapi sistem produksi dilakukan secara paralel dari A hingga Z. Bayangkan, satu orang merakit mobil mulai ban hingga mesin.

Revolusi 2.0 merevolusi sistem produksi dengan cara menciptakan “Lini Produksi” atau Assembly Line yang menggunakan “Ban Berjalan” atau conveyor belt bertenaga listrik di tahun 1913. Dari sini, proses produksi berubah total. Tidak ada lagi satu tukang yang menyelesaikan satu mobil dari awal hingga akhir, tapi para tukang diorganisir untuk menjadi spesialis, cuma mengurus satu bagian saja. Produksi satu barang dipecah menjadi berbagai pos. Misalnya, dalam memproduksi sebuah mobil, satu mobil dipindahkan ke setiap pos dengan conveyor belt, lalu dirakit secara serial.

Penggunaan tenaga listrik, ban berjalan, dan lini produksi ini menurunkan waktu produksi secara drastis. Barang-barang bisa diproduksi dengan jumlah yang sangat besar tapi dengan waktu yang jauh lebih pendek. Situasi ini akhirnya mengubah kehidupan manusia nyaris di seluruh dunia.

Misalnya, ketika mobil menjadi barang murah, hampir setiap orang bisa membelinya. Mulailah tercipta wilayah “Suburb” atau wilayah pinggir kota, jutaan orang butuh garasi, tempat parkir, bengkel ganti oli, bengkel ganti ban, tukang cuci mobil, dan berbagai hal yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Sempurna sudah perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Di mana orang kaya yang mengandalkan tanah? Hilang!

Awal tahun 1970-an ditengarai sebagai kemunculan perdana revolusi industri 3.0. Tahap ini ditandai dengan penggunaan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Revolusi ketiga ini dipicu oleh mesin yang bergerak, yang berpikir secara otomatis: komputer dan robot. Sistem otomatisasi berbasis komputer ini membuat mesin industri tidak lagi memerlukan manusia sebagai operator mesin. Abad informasi dimulai.

Kemajuan teknologi komputer membuat ia bisa dipasang di mesin-mesin yang mengoperasikan lini produksi. Kini, komputer menggantikan manusia sebagai operator dan pengendali lini produksi. Inilah yang disebut “otomatisasi”. Semuanya jadi otomatis, tidak memerlukan manusia lagi. Seiring dengan kemajuan komputer, kemajuan mesin-mesin meningkat luar biasa. Macam-macam mesin diciptakan dengan fungsi menyerupai manusia, di mana komputer adalah otaknya.

Apa hasilnya? Ketika banyak perusahaan menggunakan komputer dan robot, orang yang terampil mengoperasikan komputer sekalipun hanya lulusan SLTA bisa lebih penting dari orang yang bergelar sarjana tapi gaptek. Andalan ekonomi berubah dari ekonomi industri menjadi ekonomi informasi. Misalnya, video game menjadi bisnis dengan nilai milyaran, bahkan trilyunan dolar.

Kini kita sedang memasuki revolusi industri tahap empat atau 4.0. Konsep “Industri 4.0” pertama kali digunakan di publik dalam pameran industri Hannover Messe di kota Hannover, Jerman di tahun 2011. Seperti revolusi-revolusi sebelumnya, revolusi Industri 4.0 juga berangkat dari capaian sebelumnya, yaitu komputer dan robot. Yang menjadi penanda pokok dari revolusi tahap empat ini adalah internet.

Komputer menjadi semakin kecil dan canggih. Ia bisa ditenteng ke mana-mana dalam bentuk ponsel pintar (smartphone). Semua komputer ini tersambung ke sebuah jaringan bersama. Melalui internet, kita tersambung ke jaringan raksasa. Inilah yang disebut dengan “Internet of Things”. Saat komputer-komputer yang ada di pabrik itu tersambung ke internet, saat itu juga apa yang terjadi bisa dideteksi. Ponsel pintar adalah instrumen penting dalam revolusi industri 4.0. Di sini kita mengenal istilah big data, yang mengacu begitu banyaknya data yang ada di dalam jaringan raksasa ini.

Berikutnya adalah Cloud Computing. Karena semuanya sudah terhubung dengan internet, semua hal bisa dikerjakan di mana saja, tergantung kapasitas penyimpanan data. Misalnya, sebuah perusahaan yang punya lima pabrik di lima negara berbeda tinggal membeli sebuah superkomputer untuk mengolah data yang diperlukan secara bersamaan untuk kelima pabriknya. Di mana data-data itu disimpan? Sejauh ada internet, data bisa disimpan di angkasa.

Yang paling hebat adalah Machine learning, yaitu mesin yang memiliki kemampuan untuk belajar sendiri, yang bisa sadar bahwa dirinya melakukan kesalahan sehingga melakukan koreksi yang tepat untuk memperbaiki hasil berikutnya. Inilah yang disebut dengan artificial intelligence.

Revolusi tahap empat ini baru dimulai. Tapi perkembangan apa yang akan terjadi nyaris di luar batas imajinasi kita. Kombinasi semua hal di atas akan menghasilkan superkomputer dengan kecanggihan di luar batas kemampuan manusia. Bahkan, manusia genius seperti Stephen Hawking pernah mengatakan bahwa apa yang paling ditakutkan di masa depan adalah kekalahan manusia di depan artificial intelligence yang maha cerdas, yang mampu mereformasi dirinya sendiri, yang mampu belajar tanpa instruksi manusia, dan akhirnya menjadi intelligence yang jauh lebih cerdas daripada manusia.

Mengapa kita perlu mewaspadai revolusi industri 4.0? Sejarah telah menggelar bukti-buktinya, bahwa setiap revolusi industri menggeser seluruh lanskap tatanan sosial, budaya, dan politik di seluruh dunia. Ia menghadirkan tatangan-tantangan baru. Tantangan-tantangan itu memerlukan respon yang tepat. Banyak orang atau kelompok mapan yang tiba-tiba saja berada di ambang kehancuran karena gagal memberi respon dengan tepat.

 

Apa yang Harus Dilakukan: Belajar dari Film “Before You Feel Pressure”

Film ini diproduksi oleh seorang Youtuber India, bernama Jay Shetty. Di dalamnya, dia menyatakan bahwa hampir setiap orang yang sekolah selalu berpikir bahwa dunia adalah tempat “normal” di mana segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan impian. Tiga (3) tahun selesai SLTA, kemudian kuliah. Lima tahun kemudian memulai karir. Bekerja di berbagai lembaga top. Setelah itu menikah, membeli rumah. Dalam sepuluh (10) tahun, hidup kita akan ditentukan. Lima belas (15) tahun dihitung dari kelas 1 SMA, kita berusia 30 tahun, dan dari situ hidup sepenuhnya akan ditetapkan.

Betulkah? Faktanya: Ada orang lulus kuliah usia 21 tahun dan baru dapat kerja di usia 27 tahun. Ada orang yang lulus kuliah menjelang usia 26 tahun dan langsung dapat kerja. Ada yang tidak pernah kuliah dan menemukan apa yang diingini di usia 18 tahun. Ada yang dapat kerja begitu selesai kuliah, bergaji besar, tapi membenci apa yang dikerjakannya. Ada orang yang memerlukan waktu bertahun-tahun dan akhirnya menemukan apa yang dituju. Ada orang yang sangat yakin dengan cita-citanya di usia 16 tahun, tapi kemudian mengubahnya di usia 26 tahun.

Mark Cuban, pemilik Dallas Maverick, hanyalah seorang bartender pada usia 25 tahun. JK Rowling baru menerbitkan Harry Potter di usia 32 tahun setelah ditolak 12 penerbit. Ortega, pebisnis pakaian, baru meluncurkan merk Zara yang sangat terkenal saat usianya 39 tahun. Jack Ma membangun Alibaba di suia 35 tahun. Morgan Freeman membuat lompatan besar di karir filmnya saat usianya 52 tahun. Komedian Steve Carell diakui bakatnya di usia 40 tahun. Richard Branson membangun Maskapai Penerbangan Virgin di usia 34 tahun

Jutaan orang merasakan bahwa apa yang mereka pelajari di dunia perkuliahan bukan passion/hasrat mereka. Mungkin saja seseorang memiliki gelar sarjana akuntansi, tetapi justru tertarik pada dunia fashion atau mode. Atau, memiliki gelar sarjana filsafat, tetapi ingin menjadi seperti Mark Zuckerberg. Jonathan Yabut, seorang pria asal Filipina, medapatkan gelar Bachelor of Science, mempelajari matematika terapan di bidang kebijakan pembangunan, tapi kini dia mempunyai karier cemerlang di bidang pemasaran, menjadi direktur pemasaran di salah satu perusahaan top di Malaysia.  Begitu pula dengan para pengusaha sukses di Silicon Valley, Amerika Serikat, kebanyakan dari mereka bukan lulusan bisnis tetapi lulusan Teknologi Informatika atau Teknik.

Faktanya, lebih banyak orang berkarir di bidang yang tidak ada kaitannya dengan latar belakang pendidikannya. Hasil survei yang diadakan oleh ECC (Engineering Career Center) UGM menunjukkan bahwa 67 persen dari jumlah responden menyatakan mereka tidak bekerja di bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Jumlah ini dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang mengatakan sudah bekerja sesuai jurusannya, yaitu sebanyak 33 persen.

Karena itu, soft skill dalam proses pendidikan sangat penting. Sikap, kepribadian, motivasi, dan EQ adalah hal-hal yang membangun soft skills. Pengetahuan akan suatu bidang (hard skills) memang penting, namun menyeimbangkan antara hard skills dan soft skills adalah sebuah keharusan. Kata orang bijak: “Education is not only about transfer of knowledge. The most important thing is about building character” (Pendidikan bukan semata-mata transfer pengetahuan. Yang paling penting dari pendidikan adalah tentang membangun karakter).

Di samping keyakinan diri, beberapa soft skill yang perlu dimiliki oleh sarjana, termasuk para sarjana Muslim, dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan adalah: communication (komunikasi), critical thinking and problem solving (berpikir kritis dan pemecahan masalah), collaboration (kerja sama), creativity and innovation (kreativitas dan inovasi). Untuk semua hal ini, kunci utamanya adalah belajar tiada akhir. Uthlub al-ilm min al-mahd ila al-lahd. Itulah kunci jika kita tidak mau menjadi penyembah artificial intelligence yang sesungguhnya adalah ciptaan kita sendiri.[]

Dosen UIN Sunan Ampel, Wakil Ketua PW ISNU Jawa Timur 

Disampaikan dalam Orasi Ilmiah dalam rangka Wisuda INSURI Ponorogo tahun akademik 2018/2019 pada 9 November 2019 

 

: