Sumpah Pemuda, Gen Z dan WiFi

28 Oktober 2025 07:13
Sumpah Pemuda, Gen Z dan WiFi
Oleh

Dr. Arik Dwijayanto, M.A (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama) 

Opini INSURI - Pagi ini sambil menunggu koneksi WiFi tersambung di Warung Kopi, seorang pemuda yang belum genap berusia dua puluh tahun tiba-tiba bertanya, “Mas, kalau dulu Pemuda berkumpul jadi Sumpah Pemuda, sekarang Gen Z kumpul jadi Sumpah apa?” Pertanyaan itu terdengar ringan, tapi seperti notifikasi “low battery” di tengah Zoom meeting. 

Bayangkan tahun 1928. Para pemuda dari Sumatera sampai Ambon datang ke Jakarta bukan untuk nonton konser, tapi untuk ngumpul serius membicarakan masa depan bangsa. Tak ada ring light, tak ada story Instagram. Mereka hanya membawa tekad, bahasa Indonesia yang masih patah-patah, dan semangat yang bikin penjajah migrain.

Setelah hampir seabad spirit Sumpah Pemuda masih ada, tapi perjuangannya berubah bentuk. Sekarang mereka berjuang melawan scrolling tanpa arah, hoaks tanpa batas, dan algoritma tanpa ampun.

Gen Z hari ini mungkin tidak bersumpah di bawah bendera Merah Putih, tapi di bawah lighting aesthetic kamar tidur yang ditemani ring light dan kopi susu sachetan. Namun jangan salah, di balik hoodie oversize dan earphone yang nempel 24 jam itu, mereka menyimpan semangat yang tak kalah garang dari para pendahulu.

Mereka mungkin tidak berteriak “Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa,” tapi mereka bisa bikin tagar #BanggaJadiIndonesia trending dalam waktu tiga menit. Mereka mungkin tak menulis manifesto di kertas, tapi bisa menulis thread di X (Twitter) sepanjang 10 paragraf yang lebih tajam dari debat anggota DPR.

Masalahnya, dunia Gen Z terlalu ramai. Semua orang bicara, tapi sedikit yang mendengar. Semua merasa benar, tapi malas membaca. Semua ingin menginspirasi, tapi jarang refleksi. Sumpah Pemuda dulu adalah momentum menyatukan rasa kebangsaan; Sumpah Pemuda hari ini seharusnya menyatukan timeline.

Dulu perjuangan Pemuda melawan kolonialisme bersenjata, sekarang melawan kolonialisme mental dan digital. Dulu musuh datang dengan kapal, sekarang datang lewat feed TikTok yang menghipnotis dan membuat lupa waktu.

Tapi jangan salah, Gen Z bukan generasi yang lemah. Mereka adalah anak zaman yang lahir dari badai — pandemi, politik, dan perubahan iklim — tapi masih bisa bercanda di tengah semua itu. Mereka bukan generasi yang kehilangan arah, hanya generasi yang butuh GPS moral baru di tengah peta dunia yang terus berubah.

Jadi, mungkin sudah waktunya Sumpah Pemuda versi baru tidak hanya tentang persatuan geografis, tapi kesadaran digital. Tentang bagaimana menjaga Indonesia di ruang maya, bukan sekadar di ruang rapat.

Kalau dulu pemuda bersumpah di bawah cahaya lampu minyak, hari ini Gen Z bersumpah di bawah sinar layar ponsel. Beda cahaya, tapi semoga tetap menerangi arah yang sama: Indonesia yang tidak hanya merdeka secara politik, tapi juga merdeka dari kebencian, kegaduhan dan sinyal Wifi yang putus-putus.

Dan kalau boleh menutup dengan sedikit satire, mungkin semangat 1928 bisa jadi status singkat: “Lahir di timeline berbeda, tapi masih satu cita-cita. Jangan cuma trending, tapi juga berdampak.”